Perpaduan Islami Dan Kearifan Lokal Dalam Tradisi Tepung Tawar

 


Tepuk Tepung Tawar adalah suatu adat Masyarakat Melayu, khususnya di Kabupaten Natuna. Tradisi ini sudah ada sejak masa raja-raja zaman dulu. Upacara tepung tawar ini sebenarnya diambil dari ritual Hindu yang sudah lebih dulu dianut masyarakat Indonesia. Lalu, setelah Islam masuk, tradisi Tepung Tawar tetap dilaksanakan dengan mengganti ritual pembacaan mantra menjadi pembacaan doa.

Tepung Tawar artinya menghapus segala penyakit. Tepung Tawar juga dilakukan sebagai ungkapan rasa kegembiraan dan sebagai rasa syukur atas keberhasilan, hajat, acara, atau niat yang akan atau yang telah dapat dilaksanakan.

Selain itu, tepuk tepung tawar ini merupakan lambang memohon doa restu kepada yang maha kuasa agar mendapat keselamatan dan keberkahan dari Tuhan yang Maha Kuasa.

Tepung Tawar juga merupakan tradisi khas Melayu orang Natuna yang digelar untuk momen penting. Beberapa di antaranya yakni hajatan pernikahan, menyambut tamu penting, hingga pelantikan pejabat.

Bagi orang Melayu, Tepung Tawar merupakan adat yang harus dilaksanakan. Mereka memiliki pepatah yang mengungkapkan "Kalau buat keje, nikah kawin”, kalau belum melaksanakan acara tepuk tepung tawar belum sah (afdol) acara yang dilaksanakan.

Bahan Dan Perlatan Tepung Tawar

Pada umumnya di Kabupaten Natuna dalam Profesi Tepung Tawar dapat kita jumpai beberapa bahan dalam tepung tawar tersebut di antaranya :

  • Mangkuk Sebagai Wadah Air
  • Daun Perenjis (percikan), yaitu daun yang diikat jadi satu
  • Air Tepung Tawar air yang dicampur dengan bunga mawar.


Tata Cara Pelaksanaan Tepung Tawar

Dari beberapa penjelasan yang di dapatkan dari beberapa narasumber yang biasa melakukan tepung tawar ada beberapa langkah atau tata cara dalam pelaksanaan tepung tawar.

  • Daun Perenjis (percikan) dimana daun adalah campuran beberapa daun seperti daun setawar, daun sedingin, daun bidara di ikat dengan benang kemudian di celupkan air tepung tawar yang sudah di campuri dengan bunga mawar.
  • Kemudian orang yang akan di tepung tawar di minta untuk memasukkan tangannya kedalam wadah dengan posisi telengkup.
  • Kemudian tangan orang tersebut akan di percikan oleh tokoh adat atau orang yang melakukan tepung tawar, sambil mengucapkan doa-doa yang berisi nasehat dan petuah dalam kehidupan, serta memohon berkah dan ridho dari Allah swt.

Makna Dari Bahan Tepung Tawar.

Dari beberapa penjelasan yang di dapatkan dari beberapa narasumber yang biasa melakukan tepung tawar ada makna simbol yang terkadung pada bahan serta perlengkapan.

Daun Perenjis (percikan) dimana daun adalah campuran beberapa daun seperti.

  • Daun Setawar biasa disebut sebagai penawar, yang maknanya adalah melambangkan sebagai obat atau penawar yang menawarkan segala yang bisa dan membuang segala yang jahat.
  • Daun Sedingin (biasa disebut sebagai penyejuk hati), yang maknanya adalah melambangkan mendinginkan hati dan pikiran, mendingnkan nafsu yang menyalah serta ketentraman dan kedamaian hati.
  • Daun Bidara biasa disebut sebagai penangkal iblis dan setan, yang maknanya adalah melambangkan penolak bala dan hasutan setan iblis

Sementara benang warna putih sebagai pengikat dedaun-daunan perenjis biasa di sebut penyatu kehidupan, pengikat tali kasih sayang.

Air Tepung Tawar Air sendiri memiliki makna sebagai sumber kekuatan energi bagi tubuh manusia. Dengan adanya air manusia dapat memberikan kesegaran pada tubuhnya yang lemah. Air sangat bersahabat dengan kehidupan masyarakat sehingga air juga menjadi salah satu bahan utama dalam kehidupan sehari seperti, mencuci, memasak, minum dan sebagainya.

Sementara di campuran air tepung tawar terdapat daun mawar yaitu air yang terbuat dari rebusan daun-daunan yang wangi melambangkan harumnya dalam memelihara keluarga atau dalam persaudaraan.



Nilai Terkandung Dalam Adat Tepung Tawar

Tradisi Tepung Tawar dalam konteks Islam di Kabupaten Natuna adalah sebuah perwujudan yang mendalam dari nilai-nilai filosofis dalam ajaran Islam. Lebih dari sekadar seremonial, praktik ini merupakan bagian tak terpisahkan dari adat istiadat yang memiliki makna yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat.

Adat istiadat Tepung Tawar ini juga menunjukkan bagaimana Islam mengakomodasi nilai-nilai lokal dan budaya dalam praktik keagamaannya. Ini mencerminkan kekayaan dan kedalaman nilai-nilai yang bersifat universal namun juga dapat diimplementasikan dalam berbagai konteks lokal tanpa kehilangan substansi dan esensi dari ajaran tersebut.

Balik serangkaian ritual yang terjadi dalam Tepung Tawar, terdapat kekayaan makna filosofis dan simbolis yang dalam. Proses pemberian tepung secara simbolis mencerminkan makna kesucian, kebersihan, dan doa-doa baik yang ditujukan kepada individu yang bersangkutan

Ritual ini juga menjadi wujud dari nilai-nilai kearifan lokal yang turun-temurun dijaga dalam masyarakat Riau. Setiap gestur, kata-kata yang diucapkan, atau tindakan yang dilakukan dalam prosesi Tepung Tawar menyiratkan pesan moral yang terus diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Hal ini menjadikan tradisi ini bukan hanya sekadar warisan budaya, melainkan juga sarana untuk menyampaikan nilai-nilai yang mengikat masyarakat dalam kearifan lokal dan ajaran Islam yang diyakini.


Komentar

Postingan Populer