KESENIAN HIKAYAT DEWA MENDU DI NATUNA

Mendu merupakan karya budaya yang ditetapkan jadi warisan bersama antara Provinsi Kepri dan Kalimantan Barat. Mendu ditetapkan jadi warisan budaya tak benda (WBTB) bersama Kepri dan Kalbar. Mendu adalah salah satu kesenian khas kabupaten natuna yang berawal dari pulau laut, dan juga dikembangkan oleh orang kaya Maddun. Mendu berasal dari kata menghibur rindu atau hiburan rindu kampung halaman dan kasih sekampung

Dari penjelasan di atas ada beberapa versi tentang pengertian mendu berserta asal muasalnya :

Dikutip dari ALIUDIN (1955), mengatakan bahwa Teater mendu ini berasal dari Bunguran (merupakan pusatnya), lalu berkembang ke Natuna, Anambas, terus ke Sungai Ulu, Pulau Tiga, hingga ke Midai dan Siantan. Ketika Provinsi Kepulauan Riau masih menjadi bagian dari Provinsi Riau, mendu juga dikenal di Riau Daratan, terutama daerah pesisir.

Keunikan pementasannya adalah cerita yang dimainkan tanpa naskah sehingga pemainnya harus memahami alur cerita. Dialognya disampaikan dengan tarian dan nyanyian yang diiringi dengan musik yang khas. Iringan musik menggunakan alat musik gong, gendang, beduk, biola, dan kaleng. Bahasa  dalam Kesenian Mendu dipergunakan oleh tokoh-tokoh adalah  bahasa Melayu sehari-hari.

Orang yang paling bertanggung jawab atas berlangsungnya kesenian ini disebut Khafilah. Tugasnya layaknya sutradara yang mengatur jalannya pementasan. Sesekali ia bermadah untuk menyampaikan prolog berisi ringkasan cerita penampilan berikutnya. Sedangkan, yang bertanggung jawab terhadap lingkungan disebut dengan Syekh. Tugasnya melindungi para pelakon dari ancaman kekuatan jahat. Oleh karena itu pementasan mendu memerlukan Pohon Pulai (alstonia scholaris) yang ditanam pada bagian depan panggung sebagai penangkal kekuatan jahat yang dapat mencelakakan pelakon. Syekh maupun Khafilah berada di belakang. Syekh ada kalanya berperan sebagai Khafilah, tetapi tidak untuk sebaliknya.





Di kutip dari M. Zam (1980) Mengatakan bahwa perkenalan pertama seni Mendu pada masa beliau di bawa oleh seorang pemuka agama yang tinggal di daerah Pengadah, selain untuk menyebarkan agama islam pemuka agama ini mengajak untuk bermain kesenian mendu. Di dalam alur ceritanya terdapat pesan moral,mistis, yang hubungkan kedalam kehidupan dunia nyata.

Cerita Hikayat Dewa Mendu yang menjadi inti pertunjukan ini terbagi ke dalam tujuh episode. Ketujuh episode tersebut terdiri dari episode pertama yang menceritakan kehidupan khayangan dan turunnya Dewa Mendu dan saudaranya Angkara Dewa ke dunia, hingga bertemunya Dewa Mendu dengan Siti Mahadewi yang kemudian menikah dengannya; sampai dengan episode ketujuh bagaimana Dewa Mendu bertemu dengan anaknya, Kilan Cahaya, dengan diawali perkelahian antar keduanya. Hikayat ini dapat dimainkan dalam beberapa versi, namun tidak menghilangkan inti cerita.

Maksud dari dewa mendu dalam arti melayu dewa ini adalah orang yang memiliki kesaktian yang melebihi orang pada umumnya, Dahulu pementasan mendu memerlukan waktu yang sangat panjang. Jika keseluruhan episode dimainkan bisa memakan waktu sampai 40 malam namun sekarang dapat diperpendek sampai 3 malam saja. Bahkan, saat ini bisa dimainkan dalam sehari hanya dalam waktu 45 menit sampai 2 jam saja dengan mengambil fragmen yang diperlukan.

 Dulu seni pertunjukan mendu dimainkan saudagar, nelayan, dan petani untuk hiburan. Mereka memainkan musik, nyanyian, dan berpantun untuk melepas rindu pada kampung halaman. Kata menghibur diri berubah menjadi mendu karena kesenian ini menjadi tontonan menarik yang kemudian digemari oleh masyarakat Natuna, tapi sekarang pertunjukan Hikayat Dewa Mendu hanya dipentaskan untuk memeriahkan acara pernikahan, HUT Kemerdekaan Indonesia dan hari-hari besar agama Islam.

 

 

Komentar

Postingan Populer